Internet: Portal Berita Baru? Kenapa tidak…

16 May 2008

Seorang kawan mengirimkan pesan singkat, “I****i mengundurkan diri dari tempatnya sekarang. Per Juni 2008 dia akan pegang layanan internet portal baru.” Selidik, punya selidik ternyata kawan tadi bergabung ke sebuah portal baru yang didanai oleh seorang pengusaha dan politikus yang pejabat terkenal itu. Konon khabarnya, portal ini akan beroperasi (go live) pada awal September 2008. Wah, bakalan makin seru, nich, dunia perinternetan Indonesia.

Ya, semakin seru dan penuh tantangan. Sebelumnya, sebuah portal berita juga muncul. Khabarnya, portal berita yang ini juga mendapatkan suntikan dana dari seorang politikus dan pengusaha yang juga pejabat ngetop di negeri ini. Portal-portal berita tersebut dimotori oleh kawan-kawan jurnalis dengan pengalaman yang cukup. Meskipun nuansa dan muatan politiknya tidak kecil, mudah-mudahan profesionalisme jurnalistik mereka mampu memberikan penyeimbang pada publikasinya.

Pada satu sisi, optimisme ini melegakan. Ya, paling tidak industri maya ini, yang menurut saya, masih memiliki potensi bertumbuh besar, mampu menarik minat investasi di tengah situasi ekonomi yang tidak menggembirakan. Muatan politik? Ya, pasti adalah muatan itu. Ekonomi politik adalah muatan yang mustahil ditangkal pada industri media, termasuk yang bermedia internet. Hanya seberapa besar pengaruhnyalah yang akan menentukan integritas medianya.

Secara ekonomi, ini berarti meningkatnya nilai jual awak atau pelaku di industri ini. Meskipun tidak banyak, posisi tawarnya sedikit terdongkrak. Kenapa? Ternyata tidak mudah mendapatkan awak yang ahli di bidang jurnalistik dan memiliki perspektif teknologi informasi, dan sebaliknya awak yang ahli di bidang teknologi informasi dan memiliki perspekstif jurnalistik. Belum lagi untuk awak yang berkutat dengan aspek bisnisnya, misalnya online news syndication, online (termasuk mobile) marketing, dan aktivitas bisnis turunannya. Hukum ekonomi secara umum tetap berlaku, meningkatnya permintaan (demand) mendorong meningkatnya harga. Mudah-mudahan momentum ini memberi dampak positif yang berkelanjutan.

Sementara, pada sisi yang lain ada sedikit ‘kekecewaan.’ “Portal berita lagi, portal berita lagi,” begitu kira-kira gerutuan saya. Pinjam istilahnya warga Kampung Gajah, “Wudehelayu?” Ya, memang siapa sih gue. Namun, marilah kita lihat faktanya. Ada banyak kemungkinan layanan bergenre Web 2.0, tetapi layanan yang berhasil mendapatkan pendanaan investasi baru yang ada masih berkutat pada publikasi informasi. Mudah-mudahan optimisme ini tidak senasib dengan apa yang terjadi pada awal 2000.

Common sense memberikan indikasi muatan politik investor menariknya pada model layanan ini. Mungkin analoginya begini, jika nilai potensi ekonomi masih belum jelas, kenapa tidak mengambil potensi manfaat politik. Sayangnya, saya tidak memiliki kemampuan untuk menguantifikasi potensi manfaat politik dalam hitungan ekonomi. Pada situasi menjelang hajatan politik besar seperti saat ini, hampir pasti potensi manfaat politiknya jauh lebih besar dari potensi manfaat secara ekonomi. Jadi tidak aneh jika investor menjatuhkan pilihan ke industri media (portal berita) karena tujuan pembentukan opini publik akan lebih mudah dicapai.

Terlepas dari kedua sisi di atas, saya percaya dampak positif pada industri media dan internet Indonesia besar. Mudah-mudahan para pengelolanya mempunyai pendekatan baru pada layanan yang sedang dibangunnya, sehingga pendekatan itu dapat memperkaya kasanah layanan portal berita. Ya, tentu saja pendekatan ATM pun layak dipertimbangkan.
Kepada kawan saya tadi, selamat bekerja kawan…! Penuhilah trafik internet Indonesia dengan karya anak negeri. Tambah portal berita baru? Kenapa tidak, masih tersedia ruang yang sangat besar untuk inovasi dan kompetisi.


TAGS detik portal berita jurnalisme publikasi politik internet online inilah okezone kanalone kompas beritajakarta astaga kapanlagi


-

Author

Follow Me