Menabung di Unit Syariah: Dijamin Halalkah?

14 May 2008

Banyak bank-bank konvensional membuka unit syariah Islam (USI). Jika sebagian besar fasilitas USI dikelola dengan administrasi dan infrastruktur perbankan konvensional, lantas apa perbedaannya? Apakah hanya bertumpu pada kalkulasi dan prinsip keterbukaan model bagi hasil, misalnya, bisa menghalalkan hasil investasinya? Mengubah riba (bunga) menjadi bagi hasil syariah?

Terus terang saya tidak tahu jawaban pertanyaan di atas. Karena keterbatasan pengetahuan, saya tidak hirau akan hal itu. Dan jujur, itu tidak terlalu merisaukan saya. Ada hal lain yang justru mebuat saya menjadi gamang meneruskan langkah menempatkan dana, yang sayangnya memang tidak banyak, pada unit syariah Islam sebuah bank milik pemerintah.

Apa pasal? Kesengajaan menyelewengkan prosedur, hanya untuk mengejar target pembiayaan, atau investasi. Setiap unit usaha selalu memiliki atau dibebankan target. Semua pebisnis pasti maklum akah hal itu. Di manakah ada unit usaha tanpa target? Persoalannya menjadi lain jika upaya mencapainya menghalalkan segala cara, apalagi ini unit usaha perbankan syariah Islam. Dan ini terjadi di sebuah cabang USI bank tersebut.

Begini modus operandinya: karena pencapaian unit pembiayaan tertinggal dari target yang ditetapkan, maka digulirkanlah percepatan (akselerasi) pembiayaan. Apakah ini salah? Tentu saja tidak. Dengan program ini, debitur yang mengajukan kredit pembiayaan mendapatkan berbagai insentif dan kemudahan, persyaratan dan percepatan proses. Entah karena kreatif atau demi mempertahankan prestasi, aparat USI pada cabang tersebut mengembangkan ‘insentif’ lebih yang mengakibatkan debitur syariah tidak perlu menyediakan penyertaan modal pada projek yang dibiayai secara syariah tersebut.

Bagaimana mungkin? Begitu pengajuan kredit pembiayaan sebuah projek, debitur dan cabang USI melakukan penyetoran modal fiktif, yang memberikan kesan seolah-olah debitur telah menyetorkan bagian (share) modal untuk projek yang diajukan kredit pembiayaannya. Begitu kredit pembiayaan disetujui, maka pada hari itu juga dilakukan penarikan dana pembiayaan untuk menutupi transaksi penyetoran fiktif yang dilakukan pada pagi-pagi hari itu. Dengan transaksi penarikan ini ketidak-setimbangan (imbalanced sheet) neraca kas cabang tertutupi.

Dengan model seperti ini, prosedur seolah-olah dijalankan sesuai persyaratan dan prinsip kehati-hatian perbankan. Dari sisi praktik perbankan, ini adalah praktik dan semua bank (syariah atau konvensional) pasti melarangnya. Namun, sebagai nasabah kecil apa yang bisa kita lakukan? Melapor? Tidak mudah mendapatkan bukti, dan transaksinya dilakukan dari dalam.

Saya yakin tidak semua cabang USI bank tersebut, atau sebuah USI bank-bank lain, melakukan praktik seperti itu. Itu ulah oknum adalah permakluman (excuse) yang kemungkinan besar akan saya dengar.

Tapi, kegamangan ini menggangguku. Saya memang bukan orang yang taat dan agamis, yang sedang berupaya sekuat tenaga, pikiran dan nafsu untuk tidak melanggar aturan dan berbuat baik, termasuk memberikan nafkah keluarga dengal harta yang halal. Jika batasan praktik riba dan bagihasil syariah saja sudah sulit dibedakan oleh awam, bagaimana ’status’ bagihasil tabungan syariah bila praktiknya diperciki dengan praktik seperti ini.

Jadi ingat nasehat seorang kawan: Untuk berbuat baik pun perlu perlu perjuangan.


TAGS Syariah Islam tabungan halal penyimpangan agama


Comment
-

Author

Follow Me