Aku malu ngaku Indonesian? Syetan! (ups…)

8 Feb 2008

Kamis malam lalu (7/02/2008), pada salah satu segmen silatlidah di AnTV seorang pemirsa di studio mengajukan pertanyaan yang intinya menggugat bangsa ini (tentu saja Bangsa Indonesia), kenapa terus saja mengalami keterbelakangan. Terbelakangan? Ya, jika dibandingkan dengan negeri-negeri jiran, kata penanya. Bukan topik yang baru, memang. Malahan, terlalu sering menjadi topik polemik di pelbagai media dan kesempatan diskusi.

Dan, jawabannya? Mudah ditebak. Negara dan bangsa ini paling korup, salah urus, tidak ada rasa kebanggaan, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan yang paling memprihatinkan, tidak terlihat optimisme saat itu. Atau, mungkin di setiap kesempatan masalah ini diangkat, “tone” diskusinya seperti itu? Walah

Lho, apakah harus menipu diri dan membuncahkan jargon-jargon super yang cenderung megalomania, yang tentu saja pekat dengan nuansa hipokrisi, yang konon seperti era Ganefo/Conefo dulu? Ya, enggak juga. Mengikuti diskusi, menyimak acara, atau yang lain, pasti dengan pengharapan aktivitas itu memberikan nilai tambah, apapun itu. Menghibur, mungkin ya. Tetapi pada konteks “menganggap diri sebagai bangsa terbelakang,” kok tidak memberikan optimisme, apalagi solusi.

Tidak bangga sebagai bangsa dan nasionalisme buta adalah sebagian ungkapan pesimisme kontrakdiktif. Sadar, rasanya sih iya. Namun, belanja, berobat, berlibur, menghabiskan harta (maaf, mungkin sebagian adalah hasil korupsi di negeri ini) ke Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan lainnya, masih terus jalan.

Saat bendera Merah Putih dibakar, kemudian nyanyian dan budaya bangsa diklaim negeri jiran, sebagian besar orang marah, memaki dan berdemonstrasi, sebagian bahkan sempat terjadi insiden kekerasan. Ironisnya, di tengah kemarahan tadi, konsumsi pada produk dan layanan produksi dari negeri tersebut tetap berjaya. Tidak ada tindakan nyata yang mengungkapkan nasionalisme, kecuali omongan dan ekspresi kemarahan yang cenderung destruktif.

Membangunkan nasionalisme, sebagai bangsa seyogyanya bangga pada yang kita miliki. Kalau tidak bangsa ini sendiri yang bangga, bagaimana bangsa lain akan melihatnya. Kalau mau jujur, masih banyak hal-hal membanggakan yang dilakukan oleh anak negeri ini. Tidak sedikit pekerja TI yang mengekspor hasil karyanya, menghasilkan karya-karya inovatif, mahasiswa Indonesia menjuarai berbagai kompetisi internasional, dan masih banyak prestasi lain. Jika dari dunia pendidikan yang di-cap amburadul saja, banyak hal yang membanggakan, maka sejalan upaya memperbaiki bidang ini optimisme akan hal yang lebih baik bukanlah mustahil.

Apakah dengan ekspor TKI, yang identik dengan PRT, lantas karena mereka, bangsa ini tidak bangga? Salah besar. Ketika tidak ada mengisi profesi ini, mereka dengan sadar menekuninya dan memberikan kontribusi devisa pada bangsa ini. Tapi, kan banyak timbul masalah? Nggak ada hal yang berjalan mulus. Ganjalan yang dihadapi TKI sedikit banyak dipicu oleh bagaimana aparatur dan elite di negeri ini menangani mereka. Mereka tidak lebih dari komoditi, dipajaki, digudangkan, dipaketkan, dan akhirnya disiksa oleh majikan dan direndahkan oleh masyarakatnya. Nasionalisme para mereka, sadar atau tidak, lebih nyata ketimbang mereka yang lebih jago diskusi sampai mulut berbusa.

Kalau bukan kita sebagai bangsa yang bangga menjadi Indonesia, lantas siapa? Keterbukaan, demokrasi dan kebebasan politik yang belum lama terjadi menimbulkan eforia dan ketakutan sendiri. Apa yang sebelumnya, terlihat mulus tak bercacat, tiba-tiba terlihat penuh luka. Apakah membuat kita minder dan merasa terbelakang? Jangan. Jalannya evolusi budaya kebebasan mungkin tidak mulus, tetapi optimisme akan menjadi lebih baik dan berjalan dengan kepala tegak akan mebuat kita menjadi “sehat.”

Jadi ingat kesan seorang kawan pada negeri ini. Dia berasal dari Skandinavia dan lebih dari lima tahun malang-melintang dalam bisnis telekomunikasi di Asia Tenggara. “Singapore is organized and good for business, but not for living. Malaysia, I don’t like Malaysia. Indonesia is a little bit chaotic, but more free and dynamic,” ujarnya. Bahkan jika memungkinkan setelah pensiun, dia ingin tinggal di tempat terpencil menyepi dan membuka diving spot. “Not much money, but beautiful and live.”

Jadi kenapa enggak? Saya bangga menjadi orang Indonesia, bangsa Indonesia, lahir di Indonesia, hidup dan mudah-mudahan mati juga di Indonesia.


TAGS nasionalisme hargadiri bangsa silatlidah


Comment
  • tjatur 9 years ago

    @wanhart
    Saya “nggak ngerti” maksud komentar Anda ini. Tapi kalau Anda mengundang saya mengunjungi tulisan Anda, sudah saya lakukan. “Cuman,” saat saya baca kok diulang-ulang kalimatnya. Dugaan saya, Anda melakukan “paste” dua kali, dan ini mungkin tidak sengaja.

  • wanhart 9 years ago
  • pengamen 9 years ago

    aku masih terus berusaha untuk bisa bangga menjadi bangsa indonesia..
    :D

  • ./s1ncl3@n 9 years ago

    hmm menarik .. tapi mulai saja dengan banyak tata cara bangsa dan rakyat indonesia yang meniru2 dan menjiplak kebudayaan bangsa lain … trus mulai menyayat dalam adat indah dan luhur kita. … jadi kita ikut siapa … ? dan siapa pantas diikuti ?
    bagaimanapun bangsa ini harus bangkit dari keterpurukan … dan itu andil kita ya .. kita rakyat jelata indonesia …

    viva !!!

  • Ghatel 9 years ago

    saya juga bangga mas menjadi warga negara Indonesia…. itu yang mengatakan malu, mereka tidak lebih hanya NATO (no action talk only)….

-

Author

Follow Me