Desain, Usability, dan Stakeholder Interest

6 Feb 2008

Heiii, sialan loe,” ujar seorang kawan. “Lho, emang ada apa,” jawabku singkat. “Ya, gara-gara eloe, gue jadi ngulang kerjaan dari awal lagi,” tambah dia disertai tawa enteng berderai. “Abis bagaimana, eloe sendiri nggak merasa itu yang terbaik, masak mau diterusin.”

Cakap di atas adalah penggalan ledekan yang terjadi awal pekan ini, terkait dengan aktivitas redesain sebuah sub-portal yang ada di bawah supervisi saya. Secara umum, desain yang diusulkan lebih rapi dan komposisi warna lebih baik, menurut tim operasi portal. Komposisi warna? It does not mean much to me, karena saya buta warna sebagian. Jadi dasar pertimbangan penilaian desain web user interface bagi saya murni terkait usability.

Apakah itu saja cukup? Bagi kebanyakan, mungkin tidak. Karena warna pasti memberikan aksentuasi terhadap konsep disain yang coba diimplementasikan. Mudah-mudahan kelemahan ini tidak mengaburkan esensinya.

Lantas, desain web yang memenuhi kaidah usability itu yang seperti apa? Tidak ada aturan yang tegas, dan sangat relatif. Lho? Ya, karena ini bergantung pada tujuan/misi situs web dan kepentingan pihak yang terlibat di dalamnya. Ambilah detikcom sebagai teladan. Pasti tidak sedikit pengguna menyatakan situs web tersebut tidak usable. Pendapat ini sah, tetapi tidak sepenuhnya benar. Karena aspek usability adalah kompromi antara kepentingan pengguna, pengelola (termasuk bisnis), dan misi yang di-emban webnya. Seringkali benturan kepentingan mengarahkan pada komproni yang menghasilkan komposisi yang sama sekali berbeda dari angan awal. Untuk detikcom, aspek komersial berperan cukup besar. Saya memberikan bobot cukup, karena diskusi pembahasannya cukup alot.

Bagi saya, dari sedikit pengalaman yang saya lalui, desain web dan aspek usability merupakan perpaduan antara “scientific theory” desain (misalnya prinsip desain web, pendekatan grid design, sampai F-Shape Pattern), arsitektur informasi (Information Architecture) dan stakeholder interest. Biasanya unsur terakhirlah yang memberikan aksen terkuat pada hasil akhir situs web.

Di awal web/internet booming yang pertama, referensi yang tersedia tidak semelimpah saat ini, maklum ini adalah dunia dan disiplin baru. Pertimbangan dan analisis yang dilakukan lebih mengikuti logika dengan dasar berpikir: web harus dapat diakses tanpa buku manual (meskipun disediakan taut panduan), pantang membuat pengguna berpikir (don’t make users think), self described navigation, sampai in context information presentation.

Arsitektur informasi memberikan panduan bagaimana idealnya informasi disajikan. Termasuk di dalamnya adalah alur informasi, fasilitas interaksi, jenis dan struktur konten (tentu saja bagaimana menetapkan besaran konten/size of information chunk), dan navigasi & bantuan. Bagaimana meramunya? Bak makanan, beda juru masak, beda cara dan ramuannya. That’s the art of designing a web. Pada galibnya, yang disasar adalah web yang menyajikan informasi yang usable dengan navigasi easy to learn, remain consistent, provide feedback, appear in the context, offer alternative, require an economy of action & time, dan clear visual message.

Tidak perlu heran dan patah arang bila dengan berbagai petimbangan dan analisa tersebut, akhirnya rumusan desain “porak-poranda” saat mengakomodasi kepentingan pemilik (owner’s interest) dan commercial interest. Alasannya: karena aspek inilah yang membuat “industri” internet hidup, untuk memberikan usability pada mereka, dan as a living web: situs web akan terus tumbuh, melalui web life cycle. Sejalan dengannya stakholder mengalami pembelajaran, owner’s and business interest as well.


TAGS desain usability arsitektur informasi


-

Author

Follow Me